Jumat, 03 April 2009

Triliuner Muda Berkat Situs Facebook

Mark Elliot Zuckerberg

Triliuner Muda

Berkat Situs Facebook

Mark Elliot Zuckerberg atau Mark Zuckerberg adalah anak muda yang fenomenal. Namanya melejit sejak situs jejaring sosial Facebook menjadi salah satu ikon budaya anak muda saat ini. Maklum, sejak diluncurkan pada tahun 2004, situs ini mampu menggaet tujuh juta pengguna dalam waktu kurang dari dua tahun. Berkat kesuksesan itu, para analis memperkirakan harta kekayaan Zuckerberg telah mencapai USUS$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,95 triliun. Dia pun jadi orang Amerika Serikat (ASAS) terkaya di bawah usia 25 tahun.

Mark Elliot Zuckerberg lahir pada 14 Mei 1984 di Dobbs Ferry, Westchester County, New York, Amerika Serikat (AS). Dia lahir di lingkungan keluarga Yahudi. Menginjak bangku sekolah menengah atas, dia menunjukkan minat sangat besar terhadap teknologi dan program komputer. Dia, kerap kali, menyibukkan diri dengan mengutak-atik peralatan elektronik atau program komputer. Pada saat itu, dia bersekolah di Exeter High School, New Hampshire. Di bangku sekolah itulah dia pertama kali berkenalan dengan Adam D’Angelo, yang di kemudian hari menjadi Chief of Technical Officer atau salah satu Direktur Facebook.

Zuckerberg dan D’Angelo sering mengerjakan berbagai proyek bersama, termasuk membuat piranti lunak pemutar musik MP3 yang mampu mendeteksi perilaku dan kebiasaan mendengarkan musik penggunanya. Penemuan itu langsung mendapat perhatian dari beberapa perusahaan teknologi. Salah satunya, Synapse, yang ingin membeli software MP3 tersebut. Namun, dua sekawan itu menolak tawaran tersebut. Zuckerberg terus maju untuk meniti garis nasibnya. Setelah lulus, dia diterima di salah satu universitas bergengsi di AS, Harvard University. Dia merupakan salah satu anggota Class 2004. Seperti setiap mahasiswa Harvard yang punya keunggulan masing-masing, dia mulai membuat program jejaring sosial dari kamar asramanya di kampus. Sebelum membuat Facebook, Zuckerberg telah bereksperimen dengan beberapa proyek. Proyek awalnya adalah Coursematch yang memungkinkan mahasiswa di kelas yang sama bisa melihat daftar teman-teman sekelas. Proyek berikutnya adalah facemash. com. Ini merupakan situs pemeringkatan foto-foto mahasiswa di Harvard. Para pengunjung bisa memberi stempel “keren” atau “jelek” foto seorang siswa. Namun, situs itu hanya sempat nampang selama empat jam, sebelum akses internetnya diputus oleh petugas administrasi kampus. Mereka menyeret Zuckerberg ke hadapan Badan Administrasi Universitas Harvard, dengan tuduhan mendobrak sistem keamanan komputer kampus, melanggar peraturan privasi di internet, dan melanggar hak cipta. Namun, hal itu tidak membuat Zuckerberg kapok meneruskan proyek Facebook. Dia hanya butuh waktu dua pekan untuk menulis kode bahasa komputer situs pergaulan anak muda itu. Tak lama setelah diluncurkan pada 4 Februari 2004, sekitar dua pertiga mahasiswa Harvard telah menjadi pengguna Facebook. Sukses mempopulerkan situs itu di Harvard, Zuckerberg ingin memperluas keanggotaan Facebook ke sekolah lain. Dengan bantuan teman sekamarnya, Dustin Moskovitz dan Chris Hugh, dia berhasil mengembangkan sayap ke Universitas Stanford, Columbia, Yale, Ivy College, dan beberapa sekolah lainnya di wilayah Boston. Dalam waktu singkat, mereka meluncurkan Facebook ke 30 sekolah.

Pada musim panas 2004, Zuckerberg bersama Moskovitz dan beberapa teman lain pindah ke Palo Alto, California. Semula, mereka berencana kembali ke Harvard. Namun, mereka lupa waktu karena keenakan menggarap proyek itu. Merekapun memutuskan meninggalkan kuliah. Mereka menyewa rumah kecil untuk menjadi kantor. Di Palo Alto, Zuckerberg bertemu Peter Thiel, pendiri Paypal, yang menjadi investor pertama untuk perusahaan patungan itu. Beberapa bulan kemudian, mereka sudah bisa pindah ke kantor yang lebih besar di Universitas Avenue. Zuckerberg menyebut kantor barunya tersebut sebagai “Kampus Urban”. Namun, pada September 2004, dia tersandung lagi. Divya Narendra, Cameron Winklevoss, dan Tyler Winklevoss, pemilik situs jejaring sosial HarvardConnection menggugat Facebook. Mereka menuding Zuckerberg telah memakai kode program yang sudah disiapkan untuk situs yang kemudian bernama Uconnect itu, secara ilegal.

Setelahlah masuk Universitas Harvard, ketertarikan Mark Elliot Zuckerberg terhadap teknologi informasi dan komputer semakin meningkat. Dia pernah membuat beberapa proyek sebelum meluncurkan situs jejaring sosial, Facebook, awal Februari 2004. Setelah itu, dia bersama beberapa temannya memutuskan hengkang dari kampus untuk memasarkan situs itu ke berbagai universitas, seperti Stanford, Columbia, Yale, dan beberapa sekolah di Boston, Amerika Serikat (AS). Bisnisnya semakin berkembang, saat mendapatkan suntikan dana segar sebesar US$ 500.000 atau sekitar Rp 4,6 miliar dari Peter Thiel. Alhasil, di akhir 2004, pengguna Facebook telah melampaui angka satu juta. Namun, Zuckerberg masih belum puas. Pada Mei 2005, dia menggandeng mitra baru, yaitu Accel Partners. Accel mengucurkan dana US$ 12,8 juta untuk Facebook. Zuckerberg memakai sebagaian dana itu untuk membeli domain facebook.com, pada 23 Agustus 2005. Dia membelinya dari Aboutface Corporation senilai US$ 200.000 atau sekitar Rp 1,86 miliar. Setelah itu, dia membenahi situs Facebook agar profil halamannya lebih bersahabat.

Pada 2 September 2005, Zuckerberg membuat gebrakan baru dengan meluncurkan situs Facebook khusus untuk anak-anak sekolah menengah atas. Jejaring komunitas baru ini berkembang cepat. Hanya dalam waktu 15 hari sejak peluncurannya, sebagian besar sekolah di AS sudah menjadi anggota jejaring ini. Sebulan kemudian, Facebook merambah universitas dan kampus-kampus kecil di AS, Kanada, Inggris, Meksiko, hingga Puerto Riko. Alhasil, pada akhir tahun 2005, jejaring sosial ini telah mencakup sekitar 2.000 kampus dan 25.000 sekolah menengahatas di AS, Kanada, Inggris, Meksiko, Puerto Riko, Australia, Selandia Baru, dan Irlandia. Seiring membengkaknya jumlah pengguna Facebook, Zuckerberg terus menyempurnakan fitur-fitur Facebook. Pada 27 Februari 2006, dia mulai mengizinkan para mahasiswa yang menjadi pengguna situs ini untuk menambahkan siswa-siswa SMA sebagai temannya. Popularitas Facebook pun kian menjulang. Sebulan berselang, majalah ekonomi berpengaruh, BusinessWeek, melansir kabar bahwa Zuckerberg tengah bernegosiasi dengan calon pembeli potensial Facebook. Tapi, akhirnya, dia menolak tawaran yang disebut-sebut bernilai US$ 750 juta atau sekitar Rp 6,97 triliun. Pasalnya, Zuckerberg menganggap harga itu terlalu murah. Saat itu, dia memperkirakan nilai Facebook US$ 2 miliar.

Pada April 2006, investor pertama situs ini, yaitu Peter Thiel, Greylock Partners, dan Meritech Capital Partners, menambah investasi di Facebook dengan menyetorkan dana US$ 25 juta. Facebook pun masuk ke India melalui Institut Teknologi India dan Institut Manajemen India. Dua bulan berselang, Facebook terpaksa mengeluarkan duit US$ 100.000 untuk menyelesaikan masalah hak cipta dengan quizsender.com. Masalah itu membuat dia dan beberapa rekannya terus berbenah. Pada Juli 2006, Facebook memperkenalkan layanan baru yang bisa memberikan pendapatan tambahan bagi perusahaan. Dengan menggandeng raksasa komputer, Apple Inc., mereka bekerja sama mempromosikan iTunes. Setiap pekan, iTunes bakal mengirimkan 25 contoh lagu secara gratis kepada pengguna Facebook yang menjadi anggota Apple Student Group. Tujuan kerjasama ini untuk memperkenalkan iTunes kepada pelajar. Pengguna Facebook menyambut layanan yang muncul setiap menjelang musim gugur tersebut dengan antusias. Tak pelak, pada pertengahan 2006, situs ini sudah merambah Eropa dan Timur Tengah

Dengan berbagai inovasi dan fitu-fitur baru, situs jejaring sosial Facebook berkembang pesat dalam waktu relatif singkat. Tak hanya di Amerika Serikat (AS), pada akhir tahun 2005, situs ini sudah menjangkau daratan Eropa, Kanada, dan Australia. Penggunanya tidak hanya mahasiswa di berbagai universitas bergengsi di AS. Facebook juga menjadi “mainan” mengasyikkan buat siswa di sekolah menengah atas. Di pertengahan 2006, Mark Elliot Zuckerberg mengembangkan situs ini dengan menggandeng raksasa komputer dunia, Apple Inc. Berkat kerjasama ini, Facebook menyediakan berbagai layanan baru. Pada pertengahan Agustus 2006, situs ini menambahkan universitas-universitas di Jerman, dan sejumlah sekolah menengah atas di Israel ke dalam jejaringnya.

Pengembangan situs ini makin cepat setelah peluncuran Facebook Notes. Fitur baru ini merupakan fitur blogging yang memungkinkan pengguna memberikan penanda alias tagging, memasukkan gambar, dan fitur-fitur lainnya. Selain itu, pengguna bisa mengimpor blog dari situs Xanga, LiveJournal, Blogger, dan situs blogging lainnya. Berkat fitur baru tersebut, pembaca bisa memberikan komentar terhadap tulisan yang dimuat pengguna Facebook.

Menginjak bulan September 2006, Zuckerberg membuka layanan Facebook bagi semua pengguna internet. Namun, langkah ini justru menuai protes dari para pengguna dan pelanggan setianya. Alhasil, dua minggu berselang Facebook terpaksa membenahi layanan baru itu dengan membuka pendaftaran bagi pengguna internet yang mempunyai alamat surat atau e-mail yang jelas.

Pada bulan itu pula, manajemen Facebook terlibat pembicaraan serius dengan Yahoo!. Maklum, raksasa jaringan internet itu tertarik dan ingin mengakuisisi situs jejaring sosial “made in Harvard” itu. Saking ngebetnya, Yahoo! mengajukan tawaran akuisisi senilai US$ 1 miliar. Namun, belakangan rencana itu batal terealisasi karena kinerja keuangan Yahoo! di penghujung 2006 anjlok. Toh, Facebook tetap merupakan sebuah permata yang menarik diburu. Tawaran akuisisi silih berganti datang dan pergi. Apalagi saat salah satu investor pertama situs ini, Peter Thiel, memprediksi pendapatan situs ini pada 2015 nanti bisa mencapai US$ 1 miliar. Nah, pada saat itu, nilai perusahaan pun bakal ikut meroket menjadi sekitar US$ 8 miliar. Hal ini semakin membuat Zuckerberg bersemangat membesarkan Facebook. Seiring semakin mengguritanya jejaring situs ini, dia bersama teman-teman bisnisnya berencana menawarkan pemasangan iklan baris gratis di Facebook. Fitur yang diberi nama Facebook Marketplace ini diluncurkan pada 14 Mei 2007. Layanan baru ini pun langsung menjadi pesaing perusahaan-perusahaan online lain. Ambil contoh Craigslist yang sudah lebih dulu menempatkan iklan baris di situsnya. Bisnis Zuckerberg pun kian mengalir lancar. Bahkan, Apple rela memperpanjang kerja sama dengan Facebook untuk memajang contoh musik iTunes. Ternyata, meski baru seumur jagung, Facebook tak hanya menjadi target akuisisi. Situs itu juga mampu membeli perusahaan lain, yakni Parakey Inc., dari Blake Ross dan Joe Hewitt, pada Juli 2007. Parakey adalah produsen aplikasi komputer yang mempermudah transfer data berupa tulisan, gambar, dan video ke sebuah situs di internet. Tak berhenti sampai di situ saja, sebulan berselang, Zuckerberg menggaet Gideon Yu, mantan Direktur Keuangan You Tube, untuk menjadi Direktur Keuangan Facebook. Pertumbuhan Facebook yang spektakuler itu membuat pendiri Microsoft Inc., Bill Gates, terpesona dan jatuh hati. Buktinya, pada Oktober 2007, raksasa bisnis komputer itu membeli 1,6% saham Facebook seharga US$ 240 juta. Pasalnya, Zuckerberg tidak berniat menjual semua saham Facebook sekaligus. Alasannya sederhana dan sungguh mulia, dia ingin Facebook tetap independen.

Setelah mengundang Microsoft Inc. masuk dengan membeli 1,6% saham Facebook, Mark Elliot Zuckerberg semakin giat mengembangkan usahanya. Pada 7 November 2007, situs ini meluncurkan layanan terbaru berupa pemasangan iklan dengan sistem yang disebut Facebook Beacon. Sistem ini memungkinkan para penggunanya berbagi informasi mengenai aktivitas yang mereka pilih dengan teman sesama pengguna Facebook. Fitur ini juga dikenal sebagai Facebook Social Ads atau iklan sosial Facebook. Tentu saja, untuk melindungi privasi pengguna, Facebook menjamin tidak ada informasi personal milik pengguna yang teridentifikasi oleh para pengiklan di situs tersebut. Artinya, pengguna Facebook hanya bisa melihat dan berbagi informasi dalam iklan sosial yang dibuat oleh teman-temannya sendiri. Inovasi ini membuat triliuner Hongkong, Li Ka-shing, tertarik untuk menanamkan duit senilai US$ 60 juta di Facebook pada 30 November 2007. Layanan iklan di situs ini terus berkembang. Apalagi, sistem Facebook Beacon juga memungkinkan para pengguna berbagi informasi dari situs-situs lain untuk didistribusikan kepada teman sesama pengguna. Ada sekitar 44 situs yang menggunakan Facebook Beacon. Bahkan situs layanan belanja online terbesar, eBay tertarik menggunakannya. Alhasil, para penjual yang menggunakan eBay bisa memasukkan daftar barang-barang yang mereka tawarkan ke dalam Facebook News Feed.

Sayang, satu bulan berselang, fitur baru ini menuai protes dari para pengguna Facebook. Mereka merasa sistem itu sudah melanggar privasi. Zuckerber pun turun tangan dan minta maaf atas kejadian tersebut. Dia mengakui sistem ini menimbulkan masalah ketika seseorang lupa menolak untuk berbagi, Beacon akan terus bekerja dan otomatis membagi informasi tersebut kepada teman-teman si pengguna. Kini, dia sudah menyempurnakan sistem itu sehingga Beacon bisa dinonaktifkan.

Berbagai inovasi dan respon cepat itu membuat pengguna Facebook terus bertambah. Ada sekitar 60 juta pengguna aktif pada akhir tahun lalu. Jumlah pegawainya sendiri telah mencapai 400 orang. Namun, Facebook adalah perusahaan unik. Asal tahu saja, para eksekutif dan petingginya masih berusia muda, antara 24 tahun-37 tahun.

Dalam sebuah wawancara untuk program bincang-bincang 60 minutes di stasiun televisi CBS, Zuckerberg menunjukkan kantornya kepada sang pembawa acara, Leslie Stahl. Tidak terlihat aktivitas para pekerja seperti di kantor-kantor pada umumnya. Markas besar Facebook lebih mirip asrama mahasiswa. Para pegawai, yang setiap hari mendapat jatah makan gratis, bekerja sambil melakukan kegiatan favoritnya. Ada yang bermain gitar, bersepeda, main pesawat kontrol, atau bergoyang ditemani musik racikan seorang disc jockey (DJ). Mereka juga tak perlu berpakaian rapi. Celana pendek dan sandal jepit adalah kostum favorit mereka di kantor. Zuckerberg mengaku ogah suasana kantor yang terlalu formal.

Meski sudah mampu menghimpun harta kekayaan hingga US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27,9 triliun, dia bukanlah tipe orang yang mudah membelanjakan duit untuk barang-barang bermerek. Zuckerberg tetap tampil apa adanya, seperti pemuda kebanyakan yang menggemari pakaian santai. Dia juga masih tinggal di apartemen tipe studio dengan perabotan seadanya: selembar kasur yang diletakkan begitu saja di atas lantai dan dua buah kursi.

Stahl, dalam wawancara 60 minutes, menyebut Facebook sebagai ‘The New Google’. Artinya, Zuckerberg dan pendiri Facebook lainnya bisa disetarakan dengan pendiri Google Inc., yaitu Larry Page dan Sergei Brin. Maklum, situs ini tak butuh waktu lama untuk menjadi salah satu ikon dunia internet. Bahkan, para analis memperkirakan nilai perusahaan Facebook sudah melonjak jadi US$ 15 miliar. Toh, Zuckerberg belum tertarik menjual sahamnya di lantai bursa.

sumber : Harian Kontan (13 - 16 Februari 2008) - Hari Widowati

Sabtu, 17 Januari 2009

Israel Gunakan Bom Fosfor

Israel Gunakan Bom Fosfor

Lembaga pemantau hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW), mengatakan Israel menggunakan bom fosfor putih dalam serangan di Jalur Gaza. Menurut Konvensi Larangan Senjata Konvensional Tertentu, bom fosfor putih dilarang digunakan terhadap sasaran warga sipil atau militer yang berdekatan dengan warga sipil.

Sementara itu, Israel makin meningkatkan operasi penyerbuan yang sudah memasuki hari ke-23. Pasukan darat didukung helikopter tempur dan tank telah berada di kawasan pinggiran Kota Gaza.

Ketegangan dikhawatirkan meluas. Setelah Hizbullah menembakkan roket pekan lalu, terjadi insiden tembakan-tembakan sporadis dari wilayah Suriah ke arah pasukan Israel di Dataran Tinggi Golan kemarin. Namun, tidak jatuh korban dalam insiden itu.

Human Rights Watch menyatakam, bom fosfor sangat membahayakan warga Palestina yang tinggal di area dekat pertempuran. Peneliti HRW yang berada di Jerusalem mengatakan, mereka menyaksikan ledakan api pada 9 dan 10 Januari yang berasal dari serangan bom fosfor putih di dekat Kota Gaza dan kamp pengungsi Jabalya.

Lembaga itu menyatakan, Israel tampaknya menggunakan senjata itu untuk membuat tabir asap guna menyembunyikan operasi militernya. Namun, tindakan itu seharusnya tidak dilakukan di kawasan Gaza yang padat penduduk, bahkan di sekolahan. Fosfor putih bisa membakar rumah-rumah dan mengakibatkan luka bakar sangat parah.

Jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 1000 orang. Petugas medis mengatakan, separo korban adalah warga sipil dan sepertiganya anak-anak. ’’Israel sudah hampir mencapai tujuannya,’’ kata Perdana Menteri Israel Ehud Olmert. Dia tidak menyebutkan batas waktu operasi militer yang kemarin memasuki hari ke-23. (*)

Jalur Gaza

Surat Imajiner

Dari Bocah Palestina

T Junaidi

Kami hampir tidak percaya terhadap kondisi buruk yang menimpa kami, keluarga kami, dan teman-teman kami. Cahaya langit diatas kota Gaza berubah menjadi api yang membakar tubuh-tubuh kami. Hujan rudal yang dimuntahkan dari pesawat-pesawat pembom meluluhlantakan rumah-rumah kami, sekolah-sekolah kami, masjid-masjid kami serta rumah sakit kami. Dalam hitungan detik kota Gaza lumpuh seperti ditelan setan-setan Israel. Ayah kami, ibu kami, kakak-kakak kami serta teman-teman sepermainan kami telah tercerai berai, mungkin mereka telah tewas di rudal tentara dajjal itu.

Kami sedih. Manusia di dunia ini seolah-olah tak berdaya mencegah kebiadaban Israel. Mana hati nurani dunia terhadap penderitaan kami. Anda semua hanyalah penonton setia terhadap ribuan manusia yang sekarat dibantai tentara Zionis Israel. Mana PBB yang katanya sebagai pelindung bangsa-bangsa di dunia ini. Apakah dunia akan terus menjadi penonton sampai kami benar-benar binasa di negeri kami sendiri?

Di mana Arab? Di mana Mesir, Iran, Libanon, Kuwait dan negara-negara di dunia lainnya? Di mana mata hatimu di hadapan pembantaian massal seperti ini? Kami lebih dari 41 tahun dibawah bayang-bayang kepongahan Israel. Korban terus bergelimpangan di sana sini. Pesawat-pesawat tempur F 16 tak henti-henti membombardir kota kami. Mereka melancarkan serangan besar-besaran dengan cara membabi buta. Menembaki gedung-gedung tempat kami berlindung. Membunuhi adik-adik kami yang berlarian ketakutan disela puing-puing gedung yang hancur. Sepertiga dari seribu korban tewas adalah bocah-bocah sebaya kami.

***

Bukalah mata hatimu dunia. Kejadian di Palestina ini adalah ‘sajak’ Tuhan agar kita semua mau membacanya. Sajak Tuhan telah tertulis di tanah kami—dan selama 23 hari serangan Israel, sudah 1000 lebih bangsa kami tewas. Kami semua tak hanya menderita luka bakar bom curah fosfor putih yang menyapu di atas langit kota Gaza, kami juga didera kelaparan akibat bantuan dunia ditahan di perbatasan jalur Gaza. Sementara gudang bahan makanan di kantor PBB di kota Gaza juga dirudal.

Hangus bersama stok obat-obatan yang berada di Gedung Palang Merah Internasional dan rumah sakit. Jangan biarkan kami dan generasi sebaya kami binasa. Kelak kami akan menjadi mujahit pemberani untuk membela tanah kelahiran kami dari cengkeraman penjajah.

Hingga Ahad kemarin, tentara laknatullah Israel seperti menari-nari diatas jenasah bapak ibu kami, adik-adik kami, dan saudara-saudara kami. Tak henti-hentinya mereka melakukan serangannya ke berbagai wilayah di Jalur Gaza, termasuk melakukan perbuatan biadab, yakni menggiring 120 pengungsi menuju gedung persembunyian, namun gedung tersebut akhirnya dibombardir Israel agar kami semua binasa. AllahMaha Besar, sebagian dari mereka ada yang selamat atas bantuan Palang Merah Internasional, meski selama 4 hari kami semua merasakan sakit dan perasaan hancur tertimbun reruntuhan gedung.

Bukalah mata hatimu dunia! Bacalah sajak Tuhan di tanah Palestina ini. Siapa yang bisa menghentikan kepongahan Israel? Kita semua telah menuhankan Amerika sebagai negara segala-galanya. Seolah-olah Amerika sebagai malaikat dunia yang memiliki tangan kebenaran. Apakah kita semua menunggu sesuatu yang bakal dilakukan Amerika sementara kami semua terus dibinasakan secara sporadic dengan bom pemusnah massal? Bukalah mata hatimu dunia, apa yang dilakukan Israel terhadap negeri kami.

Hebatnya, Amerika justru menyalahkan Hamas di Gaza. Ini sama halnya ketika Amerika mengganyang Irak dengan alasan Saddam memproduksi bom pemusnah massal. Dasar setan- iblis Amerika, inilah akal-akalan dunia Barat terhadap bangsa-bangsa di Timur Tengah seperti kita-kita ini. Mereka mengada-ada untuk mencari pembenaran melakukan penjajahan dan perbuatan biadab. Sudah bisa dipastikan, bangsa-bangsa di Timur Tengah tidak ada bom pemusnah massal, yang ada hanyalah keberanian membela diri sebagai bangsa yang tertindas. Hammas tidak salah, mereka membela diri karena negeri kami diinjak-injak setiap saat. Meski hati kami hancur, jiwa kami hancur, tapi semangat kami tak pernah mati untuk mempertahankan tanah kami-PALESTINA.

***

Bukalah mata hatimu dunia! Kejadian di Palestina ini adalah ‘sajak’ Tuhan agar kita semua mau membacanya. Bangsa Palestina dan bangsa-bangsa di Timur Tengah tak ubahnya sebagai kelinci percobaan produk bom pemusah massal bangsa-bangsa Barat. Siapa yang mau mengawasi Amerika dan Israel ketika memproduksi persenjataan tempur mutakhir, termasuk bom fosfor putih yang selama ini dilarang PBB?

Bukalah mata hatimu dunia! Sajak Tuhan harus selalu kita baca. Serukanlah kepada negara-negara di dunia untuk mengerahkan segenap kemampuan mereka membantu Gaza yang tengah digempur secara brutal itu. Tindak kriminal yang dilakukan Israel atas warga Gaza merupakan pelanggaran yang paling keji terhadap kemanusiaan. Israel harus menghentikan segala aksi biadabnya terhadap warga Palestina. Karena pembantaian keji ini ditentang oleh seluruh agama, Islam, Kristen, Yahudi, seluruh agama Timur, dan ditentang oleh seluruh bani Adam yang berakal.

Bukalah mata hatimu dunia! Engkau jangan menjadi penonton setia. Sajak Tuhan telah menorehkan pilu agar kita semua berbuat kepada seluruh organisasi internasional agar serius dalam menjalankan seluruh keputusannya terkait penghentian penjajahan yang dilakukan Israel, serta melaksanakan seluruh isi deklarasi HAM yang menentang pembantaian dan kekejian.

Kami bocah-bocah Palestina akan meneruskan perjuangan ini demi tegaknya negara kami—Palestina-- secara utuh dan kami tidak akan menyerah.

***

Terimakasih pada Michael Heart yang hati dan perasaannya begitu peka hingga mampu membuat satu lagu yang syairnya betul-betul membangkitkan semangat kami. Terima kasih banyak. Syair lagumu mampu membakar api semangat kami dan mampu membuka mata hati dunia untuk tidak sekedar mengerti maknanya, tapi juga ikut merasakan sakitnya menjadi bangsa teraniaya.

WE WILL NOT GO DOWN (Song For GAZA)

(Composed & Performed by Michael Heart)

(Copyright 2009)

Michael Heart

We will not go down

(Kami tidak akan menyerah)

A blinding flash of white light

Cahaya putih yang membutakan mata

Lit up the sky over Gaza tonight

Menyala terang di langit Gaza malam ini

People running for cover

Orang-orang berlarian untuk berlindung

Not knowing whether they’re dead or alive

Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

*

They came with their tanks and their planes

Mereka datang dengan tank dan pesawat

With ravaging fiery flames

Dengan berkobaran api yang merusak

And nothing remains

Dan tak ada yang tersisa

Just a voice rising up in the smoky haze

Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

*

We will not go down

Kami tidak akan menyerah

In the night, without a fight

Di malam hari, tanpa perlawanan

You can burn up our mosques and our homes and our schools

Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami

But our spirit will never die

Tapi semangat kami tidak akan pernah mati

We will not go down

Kami tidak akan menyerah

In Gaza tonight

Di Gaza malam ini

*

Women and children alike

Wanita dan anak-anak

Murdered and massacred night after night

Dibunuh dan dibantai tiap malam

While the so-called leaders of countries afar

Sementara para pemimpin nun jauh di sana

Debated on who’s wrong or right

Berdebat tentang siapa yg salah & benar

*

But their powerless words were in vain

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan

And the bombs fell down like acid rain

Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam

But through the tears and the blood and the pain

Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit

You can still hear that voice through the smoky haze

Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

*

We will not go down

Kami tidak akan menyerah

In the night, without a fight

Di malam hari, tanpa perlawanan

You can burn up our mosques and our homes and our schools

Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami

But our spirit will never die

Tapi semangat kami tidak akan pernah mati

We will not go down

Kami tidak akan menyerah

In Gaza tonight

Di Gaza malam

Kamis, 01 Januari 2009

Benteng Kuto Besak

Membebaskan Benteng Kuto Besak

T Junaidi

Jurnalis Sumatera Ekspres dan Komunitas Seni

Eksistensi dan keberadaan bangunan bersejarah Benteng Kuto Besak (BKB) yang dibangun sejak abad XVIII oleh Sultan Mahmud Badaruddin, kini mulai diungkit kembali keberadaannya. Ada wacana Benteng Kuto Besak harus ‘direbut’ dan dibebaskan dari para penghuni yang masih bercokol di dalamnya.

----------------------------

Wacana membebaskan Benteng Kuto Besak ini mencuat sejak dialog seniman, budayawan dan politikus di rumah makan (RM) Pagi Sore Simpang Charitas, Kamis (13/11). Dialog budaya yang dihadiri para seniman gaek dan diprakarsai anggota DPR RI Mustafa Kamal dari partai PKS ini, kemudian berlanjut Sabtu (26/12) di Side Restaurant depan BKB. Pada pertemuan kedua ini, pembahasan mulai mengerucut mengenai aset perjuangan Benteng Kuto Besak sebagai bagian cagar budaya yang harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya.

‘Berjuang merebut Benteng’ tidak cukup hanya dengan dialog seniman sambil ngopi bareng, tanpa me

nghadirkan orang-orang yang ‘terhakimi’ dalam hal ini petinggi TNI dan institusi terkait lainnya. Pembebasan harus dilakukan dengan negosiasi tak hanya pemerintah daerah, Pangdam II Sriwijaya dan Walikota, tetapi juga harus negosiasi dengan pemerintah pusat. Mengapa? TNI mendiami Benteng itu sejak kemerdekaan, tepatnya sejak Benteng diserahkan Belanda kepada TNI pada 1945. Kini di dalam areal Benteng Kuto Besak terdapat rumah penduduk, yang merupakan keluarga mantan TNI, rumah sakit TNI (AK Gani), gedung Akademi Perawat Kesehatan Dam II Sriwijaya, serta beberapa tempat-tempat bisnis lainnya.

Untuk merelokasi penghuni Benteng tersebut tentu tidak sederhana. Perlu proyeksi dana yang tidak sedikit. Pemerintah harus merelokasi rumah sakit, gedung Akper serta sejumlah tempat tinggal lainnya. Apakah pemerintah daerah sudah siap dengan konsekwensi itu? Sudah menyiapkan lahan untuk membangun RS AK Gani, Gedung Akper dan rumah penduduk? Kalau pemerintah belum siap, ini artinya pembebasan Benteng Kuto Besak hanyalah sebuah wacana belaka.

Menurut sejarahwan Palembang, Kemas Ari, TNI tidak salah menempati Benteng Kuto Besak itu bertahun-tahun lamanya. Dalam hukum perang Internasional, siapa yang menang dalam peperangan, dialah yang menguasai aset-asetnya. Tak terkecuali Benteng Kuto Besak yang berada di jantung kota Palembang itu

‘’Saya sudah lelah membicarakan Benteng Kuto Besak itu. Mau diapakan. Yang bisa membebaskan Benteng itu adalah kebijakan pemerintah pusat dan kesadaran semua pihak. Didalam Benteng itu sudah sangat kompleks. Bila Benteng sudah bebas, baru kita melakukan penelitian secara ilmiah mengenai kelayakan bangunan bersejarah itu (BKB—Red) masuk dalam kategori cagar budaya atau tidak,’’ ujar Kemas Ari.

Terlepas dari permasalahan BKB, kini kebanggaan wong Palembang hanya tinggal Masjid Agung, sedangkan beberapa tempat sejarah seperti Goa Jepang di KM 5, justru tertimbun tanah bahkan sebagai tempat pembuangan sampah. Ironi memang, Benteng Kuto Besak mati-matian minta dibebaskan, sedangkan Goa Jepang yang bebas itu saja tidak terawat. Nah bagaimana kita mau merawat Benteng yang memiliki ukuran panjang 288,75 meter, lebar 183.75 meter dan tinggi 9.99 meter (30 kaki) serta tebal 1.99 meter (6 kaki)?

Daerah pusat Kesultanan Palembang Darussalam ini, justru berbuah ironi. Simbol-simbol kejayaan Sultan Mahmud Badaruddin, satu per satu ditelan kemajuan jaman. Undang-undang No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, juga tak mampu melindungi simbol-simbol kejayaan Tokoh Pejuang Sultan Palembang tersebut.

Namun, nasib Benteng Kuto Besak, yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung dan kantor Walikota, tepatnya di pinggiran sungai Musi, tak ubahnya seperti Benteng terlarang seperti Forbidden City di Cina. Tapi Forbidden City tak lagi menjadi kota terlarang. Tempat para raja yang mendiami areal puluhan hektar itu sudah dibuka untuk umum. Pengunjungnya tak hanya masyarakat setempat, melainkan para turis mancanegara. Nah bagaimana dengan Benteng Kuto Besak ini? Areal bangunan bersejarah itu tetap menjadi wilayah terlarang untuk dimasuki masyarakat umum karena di dalamnya merupakan markas tentara.

Upaya revitalisasi Benteng Kuto Besak ini, tampaknya tak beda dengan revitalisasi bangunan bersejarah lainnya di kota-kota besar di Indonesia. Bangunan bersejarah di pusat kota seringkali menjadi permasalahan apabila kawasan revitalisasi tersebut memiliki bangunan cagar budaya.

Pada umumnya, rencana revitalisasi kawasan pusat kota justru mengancam keberadaan bangunan cagar budaya karena seringkali bangunan bersejarah tersebut dibongkar untuk diganti bangunan modern yang dianggap lebih menguntungkan. Hal ini dimungkinkan terjadi akibat adanya dua kepentingan yang tidak selalu sejalan, yang bertujuan untuk menghindari perubahan dan menjaga karakter lingkungan tersebut, dan adaptasi bangunan / kawasan yang bertujuan untuk mengakomodasi konsekuensi dari perubahan ekonomi. Selain kedua hal tadi, isu ini pun diperparah dengan kurangnya perangkat pengendalian yang memadai dalam hal perlindungan cagar budaya.

Bila ditarik kebelakang nilai history Benteng Kuto Besak, memang memiliki kepentingan umum, yaitu pengaturan benda cagar budaya yang dapat menunjang pembangunan nasional di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata, dan lain-lain.

Benteng ini dibangun selama 17 tahun dimulai pada tahun 1780 dan diresmikan pemakainnya pada hari Senin tanggal 21 Februari 1797. Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Sedangkan gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak di prakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803.

Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh Kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan Internasional serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai Sultan ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai keraton baru.

Jika dilihat dari lokasinya yang berada di jantung kota, pembangunan dan penataan kawasan ini akan menjadi tempat hiburan menyenangkan yang menjual pesona Musi dan bangunan- bangunan bersejarah. Dari atas Jembatan Ampera, pemandangan yang tampak adalah bangunan luas nan kokoh, latar belakang menara air peninggalan Belanda (sekarang Kantor Wali Kota Palembang).

Salah satu strategi pengembangan terbaik dalam merevitalisasi kawasan kota bersejarah adalah dengan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat wisata dengan bangunan bersejarah sebagai objek wisata utamanya. Tapi siapkan pemerintah kota menyiapkan anggaran relokasi sebagai konsekwensi menjadikan kota bersejarah? (tj)

Sabtu, 06 Desember 2008

Backstage Tour Media

Ngopi di Jakarta Sambil Nikmati Musik Jazz

Perjalanan kali ini memang cukup menyenangkan. Bagaimana tidak, gemerlapnya kota Jakarta dan pesonanya diwaktu malam, terasa sangat lengkap dengan minum kopi dan menikmati alunan musik jazz. Langit Jakarta yang cerah, ditingkahi slhuet gedung-gedung menjulang tinggi, membuat angan melayang menuju Jakarta metropolitan. JakJazz 2008, telah menyulap arena istora menjadi sebuah kawasan millennium yang dipadati turis mancanegara, hanya untuk menikmati musik jazz dari masa ke masa. Berikut Laporan T Junaidi, wartawan Harian Sumatera Ekspres di arena wisata JakJazz 2008 Jakarta.

------------------------------------------

Kami mengikuti kegiatan backstage tour media bersama 28 wartawan dan redaktur hiburan se-Sumatera dan Jawa, baik media cetak, online maupun televise. Sebelumnya kami sudah bisa menebak apa yang bakal terjadi di arena musiknya orang-orang pintar (istilah yang dipakai dalam dialog film Laskar Pelangi) itu. Sebuah arena konser yang dikemas mirip alun-alun, kampong musik, dan pasar musik itu, dipadati tak hanya penonton dari Indonesia saja, melainkan turis mancanegara juga menikmati musik ‘anti kemapanan’ itu.

Kami memang tidak menemukan ‘ruh’ sebuah konser besar berskala International, yang digelar selama tiga hari dipenghujung bulan Nopember, yaitu mulai 28, 29, dan 30 Nopember 2008, tetapi kami menikmati sebuah perjalanan menyenangkan yang multimedia, sebuah arena bebas yang lebih tepat disebut arena wisata, lengkap dengan tenda-tenda cantik penjual aksesori musik jazz, mulai gitar string, piano, buku biografi musisi, Compac Disc (CD), T-Shirt, gelang, kalong, sepatu, tas, topi dan wisata kulliner diberbagai sudut arena.

Lokasi konser juga dibuat sebebas mungkin, mulai di Welcome Stage, yang arenanya di bawah pohon pinggir jalan, kemudian Orion Stage, Community Stage, dan Welcome Stage. Kami bersama rombongan wartawan, lebih memilih di arena Orion Stage dan Community Stage. Disana kita benar-benar bisa menikmati pesona Jakarta di waktu malam yang ditingkahi gemerlap lampu gedung-gedung menjulang di kaki langit.

Dengan segelas kopi kental dan Dji Sam Soe (sponsor utama penyelenggara JakJazz 2008-Red), tak terasa kaki dan kepala ikut bergoyang-goyang mengikuti irama jazz yang ekspresive dan penuh improvisasi. Musisi Jazz top seperti Ray Harris & The Fusion Experience dari Inggris serta Kyoto Jazz Massive dari Jepang, mengawali impian sebuah genre baru Jazz. Kyoto berhasil memadukan improvisasi dengan eksperimentalnya Disc Jockey (DJ). Suasana tempo doeloe yang legendary itu perlahan menuju sebuah era millennium dan metamorfose Jazz yang kaya warna.

Malam kian larut, hembusan angin dingin menambah adrenaline terpacu untuk melahap satu persatu musik yang disuguhkan sekitar 100 musisi jazz dalam dan luar negeri itu. Begitu Kyoto dari Jepang tampil maksimal lengkap dengan eksperiment-nya, para penikmat Jazz pun memberi applause. ‘’Inilah musik kami. Terserah Anda mau menamai apa. Kami juga tidak peduli orang mau ngomong apa. Musik kami criminal, kacau, atau apa terserah saja,’’ ujar personil Kyoto.

Penampilan disusul Oele Pattiselanno Trio feat. Dira dan Chika Asamoto (kolaborasi Indonesia dengan Jepang) Devian feat Dina Mariana serta Idang Rasjidi & The New Generation. Di hari pertama dan kedua ini, JakJazz kembali dihujani karya-karya terbaik para musisi yang terlibat di dalamnya. Sebut saja Daniel Sahuleka (Belanda), DJ Shuya (Jepang), Indra Lesmana Reborn, Barry Likumahuwa Project feat. Benny Likumahuwa & Utha Likumahuwa, dan yang pasti special show dari Open Hands Project: Abraham Laboriel dari Amerika Serikat (AS).

JakJazz dibuka mulai pukul 17.00 dengan menampilkan beberapa band jazz berbakat. Mereka cukup apik membawakan beberapa komposisi jazz dengan menawarkan harmonisasi segar seperti The Doctor Band, Zinnia, dan La Belle. Pada sayap kiri arena Istora yang disulap menjadi stage unik, yaitu arena konser dibangun diatas bangunan gedung Istora dengan latar belakang langit Jakarta dan gedung-gedung menjulang. Pandangan bebas ini merupakan symbol jazz yang merdeka, revolusioner dan anti kemapanan sebuah musik.

Kami bersama para wartawan hiburan dan Jazz Lovers (sebutan penggemar jazz—Red) memang paling suka memilih duduk di depan stage yang unik ini. Tak terasa secangkir kopi pun tuntas dan harus nambah sampai tiga kali ngopi. Ini benar-benar minum kopi paling menyenangkan.

Di area Jazz on Green, jazz lovers nampak terpukau oleh permainan trio gitar Agam Hamzah Accoustic Connection. Dilatarbelakangi dengan pelangi yang turun pasca hujan, trio gitaris akustik dan satu basis ini bermain sangat cantik. Dentingan senar gitar dan luwesnya jari mereka membuat kagum jazz lovers yang menikmati alunan gitar mereka. Agam juga menghadirkan penyanyi blues asal London, Sue Bennington, untuk berkolaborasi dengan membawakan lagu-lagu blues, yang perlahan membuat area Jazz on Green mengundang para jazz lovers untuk mampir dan melihat penampilan mereka.

Menyambut malam yang kian larut, festival ini terasa semakin meriah dengan penampilan dari musisi jazz yang sudah berpengalaman di panggung jazz. Salah satunya adalah penampilan dari Iga Mawarni yang menarik para jazz lovers untuk meramaikan area Amphitheatre, meskipun area tersebut dipenuhi dengan genangan air pasca hujan. Iga yang merupakan salah satu musisi senior jazz Indonesia menghibur ratusan jazz lovers dengan membawakan tujuh lagu. Performa atraktif juga ditampilkan oleh Boi Akih feat. Mieke Del Ferro (Belanda) yang membawakan lagu-lagu dengan bahasa Harukunese.

Meski menggunakan bahasa yang kurang dimengerti para jazz lovers, sang vokalis yang mempunyai nama lengkap Monika Akihary ini memikat para jazz lovers di concert hall dengan suaranya yang khas, melengking dan mendayu-dayu.

Lain halnya di panggung Skyline Terrace. Permainan keyboard Ray Harris kembali memanjakan jazz lovers yang berada di area tersebut dengan beat dan rhytm yang kompleks namun masih ramah di telinga. Gayanya yang khas dan penuh improvisasi membuat para jazz lovers ikut bergoyang mengiringi alunan musik yang mereka mainkan.

Kami puas. Inilah gaya ngopinya wartawan hiburan di arena wisata musik jazz Indonesia sejak 20 tahun lalu dan baru berkiprah di edisi ke sepuluh. Dan kesan pertama, Jazz benar-benar menuju sebuah genre baru yang revolusioner. (*)

Kamis, 20 November 2008

Preman Disekitar Kita

Preman Disekitar Kita

T Junaidi

Ini luar biasa. Kalau di zaman orde baru ada istilah petrus alias penembak misterius. Sasaran bidiknya bukan preman tapi bandit alias orang-orang yang pernah terlibat dalam aksi perampokan, copet, atau tindak kriminal lainnya. Gerakan petrus ini sangat cepat, tahu-tahu targetnya sudah tak bernyawa di dalam karung yang diletakkan di pinggir jalan. Ini sangat mengerikan karena jelas-jelas melanggar hak azazi manusia (HAM), tanpa proses hukum langsung dor..dor..dor..! Siapa penembaknya? Tidak ada yang tahu. Namanya juga serba misterius!

Sekarang ada istilah preman. Apa bedanya preman dengan bandit atau garong, begal, bromocorah, tukang copet dan tukang peras? Kalau konotasi preman adalah bandit dan sebangsanya, tentu saja banyak yang mendukung, terutama masyarakat yang selama ini tertekan terhadap ulah preman di jalan-jalan, dilorong-lorong atau di los-los pasar dan terminal. Kita semua paham bahwa ‘proyek besar’ Polri ini dilakukan untuk mengurangi dan menekan tindak kriminal, dan juga membuat rasa aman dan nyaman kepada masyarakat--meski menuai kritikan banyak pihak termasuk mantan preman besar Anton Medan dan sejumlah pemerhati masalah sosial.

Kita berharap gerakan memburu preman yang dikumandangkan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri, Komisaris Jenderal Polisi Susno Duaji, benar-benar efektif. Apalagi Kabareskrim meminta warga membantu dan berjanji akan merespon laporan masyarakat dengan baik. Tidak hanya itu, Kabareskrim bahkan mengancam mencopot jajarannya yang gagal menangani preman. “Kalau dia tidak berhasil, tolong dikritik Polda ini atau itu tak berhasil, kata Susno.

Sekali lagi, luar biasa. Kita berharap Pak Polisi benar-benar professional dan tidak gagap mendefinisikan istilah preman. Sebab istilah preman itu sendiri berasal dari bahasa Inggris Freeman yang berarti manusia bebas. Jangan sampai karena kejar target dan ancaman copot jabatan, akhirnya konotasi preman menjadi samar-samar alias bias. Kalau sudah begini, bukan tidak mungkin yang bakal terjadi di lapangan adalah asal tangkap. Padahal kalau kita lihat disejumlah tayangan televise swasta, yang diangkut aparat malah tukang ngamen, penjual koran, orang-orang yang sedang nongkrong dan orang-orang bertato. Sementara tato untuk zaman sekarang tak lagi identik dengan bandit, tapi bagian dari gaya hidup anak muda, atau dikenal body painting.. Kecuali Target Operasi (TO), lantas apa dasar hukumnya mengangkut orang-orang yang dalam keadaan tidak melakukan tindak kriminal? Bukankah subtansi targetnya adalah para garong dan bandit jalanan?

Dalam dunia hitam per-preman-an, ada istilah preman teri sampai preman kakap. Preman intelek sampai preman asal sikat. Ada preman berbaju seragam sampai preman tak berbaju. Pengertian preman ini sangat simple—orang bebas. Biar terdengar keren dan lebih modern, maka sebutan tukang peras, bandit dan orang-orang sok jagoan di terminal disebut preman. Itu syah-syah saja. Namanya manusia bebas tak terikat aturan maupun hukum yang berlaku. Bila ‘digebyah uyah’ (pukul rata) yang ditangkap adalah preman diatas kita setuju! Kapan ada penangkapan preman berdasi, berbaju seragam, preman proyek dan preman di tubuh ormas?

Mampukah aparat kita menangkap mereka? Sementara mereka tidak sedang melakukan tindak kejahatan? Jawabnya mungkin ya, mungkin tidak. Bukan rahasia umum, pemerasan di jalan alias ngemel, sering kita jumpai tidak hanya preman jalanan saja, terkadang para oknum petugas juga gemar melakukan cara-cara preman. Me-86-kan perkara atau istilahnya damai di tempat tanpa sepengetahuan atasan dengan cara memaksa jumlah nominalnya dan lain-lain, apakah ini juga tidak dikategorikan premanisme? Bila sudah seperti ini, bukan tidak mungkin preman makin bertebaran di mana-mana. Mengapa? Karena mereka punya istilah ‘pendek bacaannya’, ujung-ujungnya adalah duit.

Fenomena preman adalah masalah yang rumit dan sukar diberantas. Karena sering terkait dengan berbagai hal, baik social, ekonomi, politik, budaya dan keamanan. Di banyak negara termasuk di Amerika Serikat premanisme juga menjadi masalah rumit. Contohnya Mafia. Begitu juga Cosra Nostra di Italia atau Triad di Hongkong, Taiwan dan Jepang.

Munculnya preman tak lepas dari masalah di atas (baca; social, ekonomi, politik, budaya dan keamanan) atau lebih ekstrim masalah perut. Bila semua instansi pemerintah (terkait) menyadari punya dosa yang sama, tentu pak Polisi tidak tergopoh-gopoh seperti sekarang ini. Mengapa muncul preman? Bila pertanyaannya seperti ini jawabnya pemerintah tidak memberikan lapangan pekerjaan yang cukup untuk masyarakatnya. Kondisi perekonomian dan politik makin tak menentu. Jumlah pengangguran makin banyak. Sementara tuntutan hidup dan perut tak bisa ditawar-tawar lagi. Lantas mereka lari ke mana? Apakah menjadi preman merupakan cita-cita? Kondisi social dan ekonomilah yang memiliki andil besar menjadikan mereka sebagai preman.

Tentu saja kelompok preman ini dapat berupa kelompok besar dan kecil atau kalau dirasakan berhasil berprofesi sebagai preman, mereka punya cakupan luas bahkan juga punya cabang-cabang. Ada juga preman yang sendirian, tetapi amat berani dan ditakuti karena sikapnya yang nekat dan kalau bertindak sering tidak memakai otak! Karena itu masyarakat yang merasa dirinya orang waras terpaksa mengalah dan membiarkan saja!

Bagaimanapun juga, preman memang membuat kita tidak nyaman. Kita selalu dihantui kecemasan, jangan-jangan kita sedang diincar preman. Sekali lagi, kita sangat mendukung upaya Polri memberantas preman di sejumlah daerah di Indonesia. Meski premanisme atau pengikut-pengikut yang bermental preman ini, sudah sangat mengakar hingga ke kantor-kantor terhormat. Jangan sampai semangat perang terhadap preman ini justru menciptakan kesenjangan baru—atau buah bibir di kalangan masyarakat--maling ayam ditembak mati, maling uang negara berleha-leha. Ayo Pak Polisi, semangat dan pantang mundur!

Baca Oknum Polisi Merampok

Harian Sumatera Ekspres Juara I Perwajahan

Harian Sumatera Ekspres Juara I Perwajahan
Begitu memperoleh tropi berwarna kuning emas dan bertuliskan Juara I Perwajahan se Jawa Pos Grup, awak redaksi langsung berebut foto bersama. Suasana bangga mirip Sriwijaya FC memperoleh piala Liga Indonesia. ''Ayo kita arak ramai-ramai...'' seru Mbak Pipit, redaktur senior halaman daerah, yang kini dapat jabatan baru sebagai Sekretaris redaksi, ketika menyodorkan piala yang mirip dengan piala Liga itu

Wartawati Sumatera Ekspres pun tak mau kalah, mereka mau pose tersendiri di ruang perpustakaan. Ini adalah sejarah, ''25 tahun ke depan, bisa jadi dokumen berharga,'' ujar Mbak Wiwik, redaktur senior halaman ekonomi